start delta

Apa yang di maksud dengan star delta?

teman-teman apa yang di maksud dengan star delta dalam listrik yang menggunakan 3 phase?

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak

Dari sumber Asrofi,

Rangkaian Star dan delta adalah jenis rangkaian dalam instalasi listrik sistem 3 fase, terutama pada mesin-mesin listrik.

Rangkaian star adalah peralatan listrik 3 fase dimana didalamnya terdiri dari 3 unit/bagian (belitan misalnya) yg sama dirangkai seperti membentuk hurup Y dimana ujung-ujungnya adalah tersambung sbg line dan bagian tengahnya adalah bagian netral.

Rangkaian delta adalah peralatan listrik 3 fase dimana didalamnya terdiri dari 3 unit/bagian yg sama (belitan misalnya) dirangkai seperti membentuk bangun segitiga dimana ujung-ujungnya adalah tersambung sbg line, dan tdk mempunyai netral. Bila ingin mendapatkan netralnya biasanya diambil dr ground dgn syarat sumber tegangannya juga digroundkan.

Kalo yg dimaksud rangkaian star-delta, pada motor strarter adalah suatu rangkaian utk menjalankan motor listrik, dimana pada saat start menggunakan hub star dan beberapa saat kemudian berubah menjadi delta. Tujuannya adalah untuk mengurangi arus start yg cukup tinggi.”

Untuk hal teknis dan spesifikasi bisa mengacu jawaban bos Edgar VSB

materi referensi:

100% 1 Suara

Bukan jawaban yang benar? Coba Yahoo! Search

 

Jawaban Lain (1)

  • Sedikit menambahi jawaban “Begawan” Lee :
    Pada motor listrik 3 fasa, hubungan star delta digunakan untuk menyesuaikan tegangan listrik yang dipakai. Misalnya pada motor listrik 220 V/380V, bila kita menggunakan listrik 110 V (tepatnya 127 V ) antara fase to ground kita menggunakan hubungan delta. Sedangkan bila kita gunakan listrik 220 V antara fase to ground kita menggunakan hubungan star.
    Sistem penskaklaran star delta biasanya digunakan pada motor listrik yang berkapasitas besar yaitu sebagai soft start, tetapi tidak dapat digunakan pada mesin2 yang pada saat start membutuhkan torsi yang tinggi seperti pada kompressor.
    Start Motor Induksi

    Motor induksi yang dibahas disini tepatnya adalah motor induksi asynchron.
    Untuk mempermudah penyebutan selanjutnya kita namakan saja motor induksi.
    Ada banyak cara untuk melakukan start pada sebuah motor induksi.
    Kita akan membahas beberapa cara konvensional yang telah dikenal baik,
    diantaranya:
    1). DOL (Direct On Line)-Starter
    2). Star-Delta Starter
    3). Start dengan memakai Resistor pada Stator
    4). Start dengan memakai Autotransformator

    1.   Start dengan methode Direct On Line (DOL)
    Gambar1 dibawah memperlihatkan sebuah rangkaian untuk start motor induksi
    melalui methode DOL dan karakteristik Torsi terhadap Kecepatan Motor.
    Rangkaian daya sebuah DOL-Starter mempunyai rancangan yang sangat
    sederhana, yakni hanya perlu sebuah pemutus arus atau yang dikenal dengan
    istilah breaker Qdan sebuah kontaktor utama KM. Rangkaian kontrol (tidak ditampilkan) hanya untuk mengaktifkan serta memutuskan kontaktor utama saja.


    Gambar 1: DOL-Starter


    Sebelah kanan gambar 1 memperlihatkan karakteristik motor induksi 5.5kW
    / 4 kutub. Perhatikan arus start yang tinggi hingga mencapai lebih kurang 68A.
    Arus nominal untuk motor induksi 4 kutub dengan kapasitas 5.5 kW menurut
    data teknis hanyalah 11A. Jadi arus start telah mencapai nilai 6.2 kali dari arus
    nominal motor.

    Menurut standar Eropah hanya motor motor induksi dibawah 4 kW yang
    diperbolehkan untuk start dengan methode DOL.

    Kesimpulan DOL-Starter
    - Start dengan DOL mempunyai keunggulan karena design yang sangat
    sederhana sehingga investasinya relatif rendah.
    - Start dengan DOL mempunyai arus start atau arus inrush yang besar
    (600% – 800%).
    - Arus inrush dapat menyebabkan tegangan jaringan turun sesaat (dikenal
    dengan istilah voltage sag) dan dapat menimbulkan harmonik pada
    jaringan listrik yang lemah.
    - Arus inrush mengakibatkan terjadinya torsi kejut pada komponen
    komponen transmisi sehingga peralatan peralatan seperti gear reducer,
    timing belt, pulley dan lain sebagainya yang ada didalam sistem drive akan
    mengalami “mechanical stress” yang dapat memicu terjadinya keausan dini
    pada peralatan tersebut.
    Usia motor juga akan berkurang dengan start DOL.
    - Komponen pemutus arus seperti breaker dan kontaktor mengalami arus
    yang sangat berlebihan setiap kali start motor sehingga akan mengalami
    kerusakan lebih cepat.
    - DOL-Starter biasanya dipakai hanya untuk motor motor induksi dengan
    kapasitas yang rendah.

    (bersambung…)

    Oleh: Amir Kasan Dipl. Ing.
    Penulis adalah pelaku dan pengamat di otomasi industri sejak lebih dari
    dua dasawarsa yang lalu.Pekerjaannya melingkupi motor, drives dan proses
    otomasi. Telah berkarya pada beberapa perusahaan multi nasional dan saat ini memegang jabatan selaku General Manager pada perusahaan
    PT. Yuda Esa Sempurna Sejahtera.

    Untuk keterangan lebih jelas silahkan kunjungi website kami di:
    http://www.yess.bizweb.co.id atau http://www.yudaesa.com
    E-mail: info@yudaesa.com atau yuda@cbn.net.id
    Tel:  +62-21-54376065, 54372018, 5407091
    Fax: +62-21-54372260
    Mobile: +62-816 870 443


    2.   Star-Delta Starter

    Start dengan methode star-delta ini memanfaatkan penurunan tegangan yang
    dicatu ke motor saat stator motor terhubung dalam rangkaian bintang (star).
    Pada waktu start, yakni saat stator berada pada rangkaian bintang, arus motor
    hanya mengambil sepertiga dari arus motor seandainya motor distart dengan
    methode DOL.
    Berhubung torsi motor berbanding lurus dengan quadratis dari tegangan, maka
    dengan demikian torsi motor pada rangkaian bintang juga hanya sepertiga dari
    torsi pada rangkaian delta.

    Data data lengkap mengenai rangkaian star-delta tersusun jelas pada Tabel 1.


    Gambar 2: Rangkaian Star-Delta


    Tabel 1: Data Star-Delta

    Cara kerja
    Lihat gambar 3.
    Saat start, pertama-tama kontaktor utama K1 dan kontaktor bintang KY
    diaktifkan. Peralihan dari rangkaian bintang ke rangkaian delta terjadi pada
    kecepatan nD, yakni jika kecepatan motor sudah mencapai kira kira 80%
    dari kecepatan nominal. Caranya dengan pengaktifan kontaktor KD dan
    pada saat yang sama kontaktor KY dibuat tidak aktif.

    Bagian kurva Torsi terhadap Kecepatan yang diberi bayangan arsir adalah
    torsi asselerasi yang dibutuhkan untuk meng-asselerasi beban.
    Perhatikan torsi start pada rangkaian bintang harus selalu lebih besar dari
    torsi awal beban supaya motor dapat mengangkat beban dan ber-
    asselerasi menuju kecepatan nominal.

    Gambar 3: Star-Delta Starter

    Kesimpulan Star-Delta Starter:
    - Star-Delta Starter memanfaatkan tegangan catu yang lebih rendah pada
    rangkaian bintang saat start dengan konsequensi memperoleh torsi start
    yang lebih rendah. Torsi start turun menjadi 1/3 dari torsi awal atau
    Locked Rotor Torque (LRT).
    - Star-Delta mempunyai keunggulan dibandingkan dengan DOL-Starter
    karena arus start turun menjadi 1/3 dari arus start DOL.
    - Peralihan dari rangkaian bintang ke rangkaian delta biasanya dilakukan
    saat   kecepatan motor sudah mencapai kira kira 80% dari kecepatan
    nominal.
    - Sesaat motor sudah terlepas dari rangkaian bintang tetapi masih belum
    terhubung ke rangkaian delta, rotor masih berputar, demikian juga arus
    rotor masih mengalir di kumparan rotor. Ada flux magnetik sisa di rotor
    yang memotong kumparan stator.
    Terjadi tegangan induksi ke stator yang frequensinya tergantung dari
    kecepatan rotor saat itu.Kecepatan rotor saat itu tergantung sekali
    pada beban, apakah beban dengan inersia rendah atau beban dengan
    inersia tinggi. Saat motor terhubung ke rangkaian delta, terjadilah arus
    inrush yang sangat besar, yang mana nilainya dapat mencapai hingga
    2000 %  dalam durasi yang sangat pendek sekitar 200 ms (lihat gambar 4).
    Hal ini terjadi karena adanya perbedaan phasa yang sangat besar telah
    terjadi saat stator terhubung kembali ke jaringan listrik dalam rangkaian
    delta dengan flux dari rotor.
    Arus yang tinggi ini mengakibatkan terjadinya torsi kejut dan dapat
    memberikan dampak buruk bagi komponen transmisi dan komponen
    pemutus arus dari sistem drive tersebut.



    Gambar 4: Peralihan Star ke Delta




    Satu lagi dari kelemahan star-delta starter adalah apabila beban
    membutuhkan 40% dari torsi awal atau lebih untuk start maka
    kita terpaksa harus memilih motor induksi dengan satu frame size
    yang lebih besar.

    3. Start dengan Resistor Stator


    Star-Delta Starter mempunyai masalah tersendiri, yaitu arus inrush yang

    tinggi, walau hanya singkat, saat rotor berpindah dar rangkaian bintang
    ke rangkaian delta.
    Salah satu masalah yang dihadapai adalah mata kontak pada kontaktor
    yang sering lengket (efek las) sebagai akibat dari arus yang berlebihan.

    Cara pengaturan start dengan resistor adalah dengan memasukkan
    resistor disisi stator pada setiap phasa. Tahanan eksternal ini dihubung
    singkat secara bertahap sehingga tegangan yang jatuh pada resistor
    semakin berkurang dan seiring dengan itu tegangan ke motor semakin
    besar dan dengan demikian motor berputar mencapai kecepatan nominalnya.
    Mekanisme pengaturan ini sangat meyita tempat karena volumenya besar,
    selain itu investasinya juga mahal.

        

    Gambar 5: Start dengan Resistor Stator

    4.  Start dengan Transformator

    Cara lain start dengan penurunan tegangan adalah dengan memakai
    autotransformator. Autotrafo dipakai untuk menurunkan tegangan
    (step down). Umumnya autotrafo standar untuk start motor mempunyai
    3 tapping, yakni 50%, 65% dan 80% dari tegangan jaringan listrik.

    Gambar 6: Autotrafo

    Perbandingan tegangan jaringan dangan output dari trafo yang ke motor

    adalah  i = UL / UT sehingga arus start menjadi  1 / i2 lebih rendah

    dibandingkan dengan arus start jika motor distart secara langsung dari
    jaringan listrik (DOL). Torsi juga menjadi lebih rendah dan proporsional
    dengan faktor  1/ i2.

    Contoh sebuah rangkaian start dengan autotrafo diperlihatkan pada
    gambar 7. Rangkaian ini dikenal juga dengan rangkaian Korndoerfer.

    Setelah proses start selesai, melalui sebuah timer kita membuat kontaktor
    K1 dan K2 tidak aktif. dan membuat K3 aktif.

    Gambar 7: Rangkaian Start dengan Autotrafo

     


    Torsi start tergantung dari tapping autotrafo, tidak dapat disesuaikan
    dengan torsi beban. Penggantian step pada autotrafo dapat menimbulkan
    arus yang merusak. Sama seperti start dengan resistor, start dengan
    autotrafo juga mempunyai volume yang besar dan investasi yang mahal.

    Oleh: Amir Kasan Dipl. Ing.
    Penulis adalah pelaku dan pengamat di otomasi industri sejak lebih dari
    dua dasawarsa yang lalu. Pekerjaannya melingkupi motor, drives dan
    proses otomasi. Telah berkarya pada beberapa perusahaan multi nasional
    dan saat ini memegang jabatan selaku General Manager pada perusahaan
    PT. Yuda Esa Sempurna Sejahtera.

    Untuk keterangan lebih jelas silahkan kunjungi website kami di:
    http://www.yess.bizweb.co.id atau http://www.yudaesa.com
    E-mail: info@yudaesa.com atau yuda@cbn.net.id
    Tel: +62-21-54376065, 54372018, 5407091
    Fax: +62-21-54372260
    Mobile: +62-816 870 443


This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s